Tombol daya ponsel saya rusak.
Redmi Note 11, sudah lebih dari setahun jadi ponsel harian. Suatu hari tombol dayanya tiba-tiba tidak merespons. Mati total. Panik? Sedikit. Tetapi lebih ke kesal, karena saya tahu masalahnya bukan pada perangkat lunak.
Solusi normal: bawa ke pusat servis. Solusi saya: colokkan ke laptop, jalankan fastboot reboot dari terminal.
Ya, saya menyalakan ponsel memakai laptop. Setiap kali mati. Begitu awalnya.
Eskalasi yang Tidak Direncanakan
Dari situ saya mulai berpikir: kalau hal seabsurd ini bisa diotomasi, apa lagi yang bisa?
Saya sudah memakai Hermes Agent (asisten AI dari Nous Research) untuk membantu menulis kode. Ternyata ia bisa jauh lebih dari itu.
Sekarang saya punya:
Ringkasan pagi setiap pukul 7. Begitu bangun, ringkasannya sudah ada: berita teknologi yang relevan, cuaca Bekasi, dan pengingat tugas hari itu. Tidak perlu menggulir Twitter atau membuka 5 aplikasi.
Tinjauan teknis mingguan setiap Senin malam. Ia memindai semua repo GitHub saya, melihat commit terakhir, memeriksa mana yang mandek, lalu memberi ringkasan jujur soal kemajuan minggu itu. Lebih tajam daripada dosen pembimbing.
Audit portfolio bulanan. Setiap tanggal 1, ia mengaudit portfolio saya dari sudut pandang perekrut Data atau AI Engineer. Apa yang kurang, apa yang bisa diperbaiki, mana yang sudah usang. Masukan yang saya butuhkan tetapi malas saya cari sendiri.
Pemindaian keamanan setiap Jumat. Memindai repo publik saya untuk memeriksa apakah ada kredensial yang bocor, dependensi yang rentan, atau berkas aneh yang seharusnya tidak ikut terkirim.
Ini Bukan Cerita Budaya Kerja Berlebihan
Saya ingin menjelaskan satu hal: ini bukan soal produktivitas gila-gilaan atau bekerja tanpa henti. Justru sebaliknya.
Saya mengotomasi hal-hal yang membuat saya malas. Yang seharusnya saya lakukan tetapi selalu saya tunda. Tinjauan mingguan? Malas. Memeriksa keamanan repo? Malas. Membaca berita pagi? Menggulir tanpa dapat apa-apa.
Sekarang hal-hal itu terjadi tanpa saya pikirkan. Hasilnya lebih konsisten dibandingkan kalau saya kerjakan manual. Sebab mesin tidak malas. Mesin tidak menunda.
Yang Tidak Bisa Diotomasi
Tetapi saya juga belajar batasnya.
AI tidak bisa mengambil keputusan untuk saya. Ia bisa memberi ringkasan, pilihan, dan peringatan. Namun keputusan tetap di tangan saya. Mau mengambil proyek freelance yang mana. Mau memprioritaskan belajar apa minggu ini. Mau melanjutkan atau berhenti di satu repo.
Otomasi itu kopilot, bukan autopilot. Bedanya penting.
Satu Hal yang Berubah
Yang paling berubah bukan efisiensi atau kecepatan, melainkan kesadaran.
Sebelumnya saya tidak tahu kondisi sebenarnya repo saya. Tidak tahu mana yang sudah sebulan tidak disentuh. Tidak tahu dependensi mana yang sudah kedaluwarsa. Sekarang saya tahu. Setiap minggu. Tanpa usaha tambahan.
Ternyata itu yang membuat saya lebih fokus. Bukan karena dikejar tenggat otomatis, melainkan karena saya jadi sadar mana yang penting dan mana yang sekadar “nanti saja”.
Tombol daya ponsel saya masih rusak, omong-omong. Tetapi sekarang saya punya asisten yang menyalakannya.